Grebeg Kraton Yogyakarta

Grebeg Kraton Yogyakarta
Grebeg Kraton Yogyakarta adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan.Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau sering disebut dengan Grebeg Sekaten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad. Menilik sejarah, kata “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh. dan sampai sekarang masih dilestarikan oleh Kraton Kesultanan Yogyakarta. Di dalam upacara garebeg banyak terangkum unsur-unsur kebudayaan lama Nusantara, seperti religi, bahasa, dan adat istiadat. Dalam upacara Garebeg ini pula dapat disaksikan wujud dari gagasan-gagasan dan alam pikiran religius leluhur. Berbagai ungkapan simbolis dalam Garebeg sesungguhnya banyak mengandung nilai-nilai sosial budaya yang sudah terbukti sangat bermanfaat untuk menjaga keseimbangan, keselarasan kehidupan masyarakat dari masa ke masa.

Jenis Garebeg
Penyelenggaraan upacara gerebeg diadakan tiga kali dalam setiap tahun, yaitu dalam bentuk upacara:
1). Gerebeg Maulud;
2). Garebeg Puasa/Syawal;
3). Garebeg Besar.

  1. Garebeg Mulud. Garebeg Mulud diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang bertepatan de¬ngan tanggal 12 Rabiulawal. Bulan ini disebut juga bulan Mulud. Oleh sebab itu garebeg yang diselenggarakan dalam rangka hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu disebut Gerebeg Mulud. Tujuan merayakan dan memperingati hari lahir Nabi, selain untuk menghormati kehadirannya di dunia ini juga untuk memetik suritauladan dari kehidupan Rasullulah. Tradisi tersebut sudah dimulai sejak jaman Kesultanan Demak.
  2. Garebeg Puasa/Syawal. Upacara ini disebut Gerebeg Puasa karena diselenggarakan untuk menghormati bulan suci Ramadhan. Dalam bulan suci itulah umat Islam diwajibkan untuk memenuhi rukun Islam yang keempat, yaitu berpuasa sebulan penuh. Disamping itu Garebeg puasa juga dimaksudkan untuk menghormati malam kemuliaan atau Malam Lailatul Qadar yang diperkirakan terjadi antara tanggal 21 bulan Ramadhan sampai 29 bulan Ramadhan.
  3. Garebeg Besar. Upacara garebeg Besar dimaksudkan sebagai upacara untuk merayakan hari raya Iduladha yang terjadi di bulan Zulhijah. Iduladha disebut al’ied kabir yang berarti besar atau perayaan besar. Oleh sebab itu garebeg yang diselenggarakan juga disebut Garebeg Besar. Selain itu garebeg ini dimaksudkan juga untuk merayakan umat Islam yang baru saja kembali dari menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Pada kesempatan ini Sultan menyerahkan sejumlah hewan/ternak untuk kurban.

Author: 
author

Related Post

Leave a reply