Gejlog Lesung

Gejlog Lesung

Gejlog Lesung adalah sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya panen padi. Gejlog Lesung dilakukan dengan cara memukul suara alu “alat penumbuk tradisional” yang dipukulkan secara teratur pada sebuah lesung (lumpang kayu yang dipakai untuk menumbuk padi).Kemudian, suara alu yang dipukulkan pada lesung tersebut menciptakan irama-irama khas. Dalam tradisi kesenian Gejlog Lesung juga melibatkan para penabuh dan sekelompok penyanyi sehingga kesenian tradisional ini terasa lebih lengkap dan variatif.

Tradisi tersebut merupakan bentuk ucapan syukur kepada Dewi Sri atau Dewi Padi atas melimpahnya panen padi yang sudah didapatkan. Namun, tradisi demikian sudah terancam punah karena semakin bergeraknya zaman yang lambat laun meninggalkan kebudayaan tradisional. Saat ini tradisi gejlog lesung hanya dilakukan pada upacara-upacara tertentu saja, seperti penyambutan gerhana bulan, festival kesenian tradisional, bersih desa.

Uniknya, kesenian ini terletak pada alat-alat yang digunakannya seperti alu dan lesungnya. Alu adalah alat yang terbuat dari kayu untuk menumbuk, sementara lesung (berbentuk mirip perahu) yang digunakan untuk memisahkan padi dari tangkainya. Dalam tradisi kesenian tersebut, biasanya alu ini akan ditabuh oleh tujuh hingga delapan orang. Agar tampak lebih menarik, tradisi kesenian tersebut dipadukan dengan nyanyian-nyanyian tradisional Jawa.

Author: 
author

Related Post

Leave a reply