Nyadran Bagi Masyarakat Yogyakarta

Nyadran

Nyadran

Adalah sebuah ritual yang sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit, Kegiatannya semula hanya menaruh sesaji dan bunga – bunga di pemakaman. Namun, setelah kedatangan Islam di Indonesia terutama Jawa, tradisi ini sedikit berubah. Tradisi nyadran diakulturasikan dengan kebudayaan Islam. Dalam upacaranya diisi dengan pembacaan doa  - doa kepada Tuhan dan juga tahlilan. Nyadran di Yogyakarta dilakukan pada bulan Sya’ban, ini dikarenakan dalam Islam bulan Sya’ban merupakan bulan pelaporan atas amal perbuatan manusia. Upacara ini juga ditujukan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan juga untuk mempererat silaturahmi antar warga.

 

Nyadran
Nyadran bagi masyarakat Yogyakarta

Nyadran bagi masyarakat Yogyakarta merupakan ekspresi dan ungkapan kesalehan sosial masyarakatnya di mana rasa gotong – royong, solidaritas, dan kebersamaan menjadi pola utama dari tradisi ini. Ungkapan ini pada akhirnya akan menghasilkan sebuah hubungan vertikal – horizontal yang lebih dekat. Tak beda dengan Nyadran yang di lakukan di sebuah dusun di Kabupaten Sleman, tradisi mengirim doa untuk leluhur ini tidak dilakukan di tempat pemakaman umum seperti di daerah lain, tapi di pasar tradisional.Suasana Pasar Dusun Saren di Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman seketika ramai saat ratusan warga membawa jodang berisi makanan dan buah-buahan. Ada nasi tumpeng, ingkung ayam, ketan, apem dan kolak pisang. Tiga yang terakhir merupakan menu yang wajib dibawa setiap keluarga dalam tradisi nyadran Dalam konteks ini, maka nyadran akan dapat meningkatkan pola hubungan dengan Tuhan dan masyarakat ( sosial ), sehingga akhirnya akan meningkatkan pengembangan kebudayaan dan tradisi yang sudah berkembang menjadi lebih lestari. Rangkaian kegiatan pada tradisi nyadran ini mencerminkan rasa Syukur kepada Tuhan, rasa kekeluargaan antar warga, dan juga melestarikan budaya.

Author: 
author

Related Post

Leave a reply