Upacara Tedhak Sinten

tedhak-siten-

Adat Upacara Tedhak Siten

Upacara lain yang cukup unik yaitu upacara tedhak Siti atau Tedhak Sinten. Seseorang anak yang berumur tujuh lapan (7 x 35 hari) dimandikan dengan air kembang setaman. Sesudah menggunakan pakaian baru, sang anak diarahkan ibunya mencapai jadah (nasi ketan tumbuk) yang di beri 7 buah warna yang tidak sama. Untuk setelah itu sang anak diarahkan menaiki tangga yang di buat dari tebu wulung berwarna ungu. Sang anak lalu dimasukkan ke kurungan ayam berhias janur kuning serta hiasan yang lain. Dalam kurungan itu ada banyak benda yang perlu diambil sang anak. Salam upacara unik ini seseorang anak mulai dilatih jalan dengan menapakkan ke-2 kakinya di bumi.

Menurut sebagian orang posisi bintang-bintang memiliki dampak pada kelahiran seseorang bayi. Perhitungan th. matahari di buat berdasar pada lamanya saat bumi beredar melingkari matahari dengan saat 1 th.. Th. berdasarkan dampak matahari itu dirinci dalam bln., minggu serta hari, di mana harinya sejumlah tujuh. Perhitungan kalender berdasarkan bln. dihitung berdasar pada lamanya saat bln. mengelingi bumi yakni 1 bln.. Setahun dalam kalender bln. ada 12 bln. serta setiap bln. dirinci jadi pasar, minggu serta hari di mana 1 pasar ada 5 hari. Peringatan yang mendasarkan gabungan posisi matahari serta bln. bakal berulang tiap-tiap 7 x 5 hari. Leluhur kita sudah mengetahui bahwa posisi matahari serta bln. memiliki dampak pada bumi.

Konon seseorang anak yang lahir pada weton spesifik, kelahiran spesifik memiliki potensi spesifik. Serta weton, hari kelahiran yang berulang tiap-tiap 35 hari itu butuh dihormati. Untuk orang dewasa pada hari weton itu dibiasakan mengatur diri lewat cara puasa yang dimaksud puasa apit weton, yang diawali satu hari saat sebelum serta selesai satu hari setelah weton. Puasa pada bln. purnama juga dikerjakan lantaran dampak bln. purnama pada bumi serta diri manusia cukup besar. Demikian juga pada saat gerhana, formasi matahari serta bln. bakal memiliki dampak spesial pada bumi serta manusia.

Juga sebagai pengetahuan, pada th. 1855 Masehi, lantaran penanggalan bln. dikira tak mencukupi juga sebagai patokan beberapa petani yang bercocok tanam, jadi kalender berdasar pada rasi bintang yang punya pengaruh pada musim tanam yang dikatakan sebagai Pranata Mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV serta dipakai dengan cara resmi. Misalnya yaitu rasi bintang Waluku (Orion) juga sebagai sinyal musim tanam. Sesungguhnya Pranata Mangsa ini yaitu pembagian bln. yang asli Jawa serta telah dipakai pada masa pra-Sultan Agung. Oleh Sri Paduka Mangkunagara IV tanggalnya sesuai dengan penanggalan tarikh Kalender Gregorian yang disebut kalender matahari.

Kembali ke Tedak Siten, manusia memiliki sebagian step perubahan diri. Pertama, step bayi yang sangatlah bergantung pada ibu serta orang lain, bisanya cuma meminta. Step ke-2 yaitu anak muda yang mandiri, dapat lakukan sendiri. Step ketiga yaitu seseorang yang dewasa, yang telah sadar walaupun mandiri namun tak egoistis serta mengerti bahwa seorang memiliki sama-sama ketergantungan dengan orang lain, tak dapat hidup sendiri. Awal dari step ke-2 diawali, saat seseorang anak mulai belajar jalan, hingga jika inginkan suatu hal seseorang anak telah bisa mengambil sendiri tanpa ada minta pertolongan orang lain. Pada saat jalan, ke-2 kaki sang anak menapak segera dengan bumi, tak akan dalam gendhongan seseorang ibu. Kita hidup-mati ada di bumi, makan minum, rumah, kendaraan seluruhnya datang dari bumi, jadi kita butuh menghormati bumi.

Bayi lahir dengan perasaan awal, perasaan basic, untuk makan. Apa sajakah yang dipegangnya bakal dimasukkan mulut. Berbeda dengan kesadaran seseorang anak manusia yang selalu berkembang, kesadaran hewan tak berkembang, yang ada dipikirannya cuma makan. Babi yang didapatkan makanan basi serta permata, terang pilih makanan yang basi. Wajarlah seseorang Gusti Yesus bersabda, Janganlah berikanlah permata pada babi-babi! Pada saat seseorang anak berumur 7×35 hari, 245 hari, kurang lebih 6 bln., insting-naluri bawaan genetiknya masih tetap ada, namun dalam perubahan diri setelah itu, insting bawaan bakal terdorong ke bawah sadar, tertutup oleh kegiatan-kegiatan baru. Ketika anak berumur seputar 6 bln. itu, potensi anak bisa di ketahui. Di Tibet ketika seperti itu, pada sebagian anak yang diprediksikan jadi reinkarnasi dari seseorang Dalai Lama, bakal diberikan sebagian benda yang disebut punya Dalai Lama yang sudah wafat pada awal mulanya. Mereka yang bisa pilih dengan pas, berdasarkan perasaan, instingnya yang terbawa dari kehidupan lantas bakal diambil juga sebagai Dalai Lama yang baru. Konon, Tiga Orang Suci dari Timur datang ke Timur Tengah untuk memverifikasi apakah yang anak yang lahir benar seseorang Masiha lewat cara yang sama. Untuk yang yakin, seorang yang mati serta masih tetap mempunyai keterikatan dengan keduniawian, jiwanya masih tetap bakal melanjutkan evolusi yang belum dikerjakan dalam kehidupannya. Dia bakal lahir lagi memperoleh orangtua, lingkungan yang mendukung evolusi jiwanya. Penentuan sebagian benda dalam Tedak Siten seperti buku catat, dompet, perhiasan, gunting, kitab sastra, maupun alat bela diri, sesuai dengan pengetahuan itu. Potensi anak bakal terlihat dengan terang, hingga orangtua memahami bagaimanakah tingkatkan potensi anak sebaik-baiknya.

Pada intinya kita hidup didunia, terkurung, terbelenggu oleh dunia. Dalam Tedak Siten, bisa dipandang anak yang sesungguhnya tak suka dimasukkan ke kurungan serta menangis minta pertolongan pada ibunya. Manusia yang sadar juga mau kembali pada Bunda Ilahi. Untuk penganut spiritual, baik harta, tahta maupun ilmu dan pengetahuan yaitu modal awal untuk membebaskan diri dari belenggu dunia. Seseorang Guru datang untuk membebaskan diri manusia dari kurungan. Namun yang diinginkan manusia yaitu Guru yang memberi pengetahuan untuk hidup berhasil dalam kurungan. Diri yang terlepas dari kurungan dunia tak bermakna melarikan diri dari dunia, cuma tak terikat dengan dunia. Hidup hanya cuma berbentuk persembahan, beribadah. Sepi dari Pamrih, hasrat dunia serta Rame ing Gawe, terus berkarya selama hidupnya.

Sudah pasti ada arti dalam mandi kembang setaman serta mencapai jadah 7 warna, demikian juga dengan upacara yang dikerjakan di alam terbuka serta lain sebagainya.

Untuk orangtua sendiri, kelahiran seseorang anak, baik pria ataupun wanita yaitu anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Sejak di dalam kandungan sampai kelahirannya, tiap-tiap orangtua senantiasa mengharapkan supaya nantinya anak itu jadi manusia yang bermanfaat untuk Nusa Bangsa serta Agamanya.
Pengharapan orangtua pada anaknya itu diwujudkan berbentuk upacara kebiasaan (kebiasaan Jawa) yang diawali mulai sejak bayi masih juga dalam kandungan Ibunya, sampai anak itu lahir.

Upacara Tedak Siten adalah upacara yang diperuntukan untuk bayi ketika pertama kali ia diperbolehkan untuk menyentuh tanah atau mencapai bumi. Upacara ini diselenggarakan ketika bayi telah berusia seputar 254 hari, serta saat pagi hari dihalaman depan rumah.

tedhak sinten tradisi upacara

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Leave a reply