Sekaten Yogyakarta, Upacara Adat yang Masih Jaya

Sekaten Yogyakarta, Upacara Adat yang Masih Jaya

Sekaten Yogyakarta, Upacara Adat yang Masih Jaya

Sekaten Yogyakarta, Upacara Adat yang Masih Jaya

Yogyakarta merupakan salah satu kota yang terkenal dengan kebudayaannya yang kuat. Meskipun Yogyakarta telah dikenal sebagai kota besar di Indonesia, tapi hingga kini, tradisi-tradisi peninggalan leluhur masih tetap dipertahankan. Salah satunya adalah upacara sekaten Yogyakarta.

Apa Itu Upacara Sekaten Yogyakarta?

Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu syahadattain yang berarti dua kalimat syahadat. Upacara sekaten diadakan selama tujuh hari, yaitu tanggal 5 Mulud (Rabbiul Awal) sampai 11 Mulud (Rabbiul Awal). Upacara sekaten ini dilakukan sebagai peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

 

Upacara sekaten dilaksanakan di keraton Yogyakarta. Awalnya, upacara sekaten dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono I untuk memanggil masyarakat. Tujuannya untuk memperkenalkan agama Islam ke masyarakat umum.

 

Bagaimana Tahap Upacara Sekaten Yogyakarta Berlangsung?

Upacara sekaten Yogyakarta biasanya dilakukan melalui lima tahap. Tahap yang pertama adalah persiapan. Tahap kedua dibunyikannya gamelan sekaten. Tahap ketiga berupa pemindahan gamelan sekaten ke halaman masjid besar. Tahap keempat adalah kedatangan Sri Sultan ke masjid besar. Tahap terakhir adalah tahap Kondur Gongso.

 

Tahap persiapan terbagi menjadi dua, yakni persiapan secara fisik dan nonfisik. Persiapan fisik adalah persiapan benda-benda yang akan digunakan dalam upacara sekaten. Benda-benda itu meluputi gamelan sekaten, lagu-lagu khusus, uang logam, naskah riwayat Mulud Nabi, bunga kanthil (cempaka), serta seragam khusus penabuh gamelan.

 

Tahap persiapan nonfisik meliputi mental dari abdi dalem yang akan mengikuti ritual tersebut. Sebelum mengikuti upacara sekaten, para abdi dalem yang bertugas menabuh gamelan harus melakukan pembersihan diri. Para abdi dalem harus berpuasa dan mandi keramas sebelum mengikuti upacara sakral tersebut.

 

Pada tahap kedua, gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari persemayamannya. Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu diletakkan di tratag sebelah timur, sedangkan gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga diletakkan di tratag sebelah barat. Gamelan sekaten akan dibunyikan selepas sholat Isya atau sekitar jam 19.00 WIB sampai jam 23.00 WIB. Tahap ini menjadi pertanda bahwa upacara sekaten Yogyakarta sudah dimulai.

 

Tahap ketiga adalah pemindahan gamelan sekaten ke halaman masjid besar. Pemindahan gamelan ke halaman masjid besar dikawal oleh dua pasukan prajurit keraton, yakni prajurit Mantrijero dan prajurit Ketanggung. Pemindahan dilakukan sekitar jam 24.00 WIB setelah gamelan sekaten dibunyikan. Setelah dipindah, gamelan akan dibunyikan lagi selama upacara berlangsung, kecuali pada Kamis malam atau malam Jumat.

 

Tahap keempat adalah kehadiran Sri Sultan ke masjid besar. Pada malam ketujuh, Sri Sultan dan Kyai Pengulu akan menyebarkan udhik-udhik (kepingan uang logam) dari saka guru masjid besar ke arah rombongan sultan dan abdi dalem. Pada saat sultan membacakan riwayat Mulud Nabi Muhammad Saw., Sri Sultan dan pengiringnya akan menerima persembahan bunga cempaka dari Kyai Pengulu.

 

Pada tanggal 11 Rabiul Awal, gamelan sekaten akan berhenti berbunyi setelah sultan dan rombongannya pulang dari masjib besar. Setelah sultan meninggalkan masjid besar, gamelan sekaten akan dibawa kembali ke keraton. Kepulangan gamelan sekaten ke persemayamannya inilah yang disebut sebagai kondur gongso. Hal tersebut menunjukkan bahwa upacara sekaten Yogyakarta telah selesai.

 

Keberadaan upacara sekaten di Yogyakarta telah menunjukkan bahwa tradisi leluhur pantas untuk dipertahankan. Tradisi tersebut dapat menyatukan masyarakat dan membuat masyarakat turut berbahagia atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Upacara sekaten Yogyakartajuga telah menunjukkan bahwa agama Islam telah menyebar dengan caranya sendiri. Sultan Hamengkubuwono I telah membantu penyebaran agama Islam dengan cara menyatukkan diri dengan kebudayaan masyarakat Yogyakarta.

sekaten sekaten yogyakarta upacara sekaten

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.