JAFF Dapat Respon Positif dari Pecinta Film

film-jepang

JOGJA – Gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) edisi ke-9 tahun 2014, resmi ditutup pada Sabtu (6/12) malam, di Empire XXI Yogyakarta. Sejumlah pertunjukan tradisional dan penampilan yang menghibur, menjadi rangkaian penutup gelaran terakbar even perfilman bertaraf internasional yang telah berlangsung sejak Senin (1/12/2014) tersebut.

Puluhan film yang disajikan, baik yang berdurasi panjang, film dokumenter hingga film pendek pun mampu memberikan hiburan tersendiri bagi para penggemar film di Kota Pelajar. Hal itu terbukti dengan cukup besarnya animo masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya yang selalu memadati tempat pemutaran film ini tiap harinya.

Salah seorang juri dari NETPAC, Yoseph Anggi Noen, menuturkan sejumlah film yang diputar pada JAFF 2014 kali ini diharapkan dapat membantu masyarakat dan film maker Asia untuk lebih saling mengenal. Pasalnya, ia beranggapan kenyataan selama ini menunjukkan sejumlah film, khususnya film Asia kurang mendapatkan kesempatan atau dinikmati oleh para penontonnya.

”Film Asia sering punya masalah bertemu dengan penontonnya, selain kendala distribusi, ada pula kendala lain seperti karena content film tersebut dianggap terlalu radikal, dilarang oleh pemerintah negara film yang bersangkutan, atau karena isu-isu sosial lain yang diangkat,” katanya kepada wartawan di sela acara.

Ia pun menyebut, di sinilah peran penting gelaran JAFF yang selalu rutin diadakan setiap tahun. Dengan adanya gelaran seperti ini, diharapkan pula para pembuat dan pecinta film bisa semakin mengapresiasi jenis-jenis film yang ada, khususnya yang berasal dari wilayah regional Asia.

”Inilah salah satu peran yang ditawarkan JAFF, khususnya bagi perkembangan film Asia, sesuai dengan tema yang diangkat kali ini, Re-Gazung Asia” ucapnya.

Antusias

Hal senada dituturkan Festival Director JAFF 2014, Budi Irawanto. Ia berujar, antusiasme cukup besar yang ditunjukkan oleh penonton selama gelaran tahun ini, diharapkan bisa menjadi angin positif bagi perkembangan dunia perfilman Asia. Hal itu, tambahnya, menunjukkan bahwa ragam film Asia yang diputar selama enam hari penyelenggaraan JAFF, mulai bisa diterima dan dinikmati penonton.

“Jika melihat respon dari media sosial, nampaknya masyarakat bisa menerima dan menikmati film-film Asia, terutama yang selama ini jarang mendapatkan tempat di layar-layar bioskop Indonesia,” bebernya.

Sementara terkait kualitas film yang diputar, khususnya yang diikutkan dalam kompetisi tahun ini, dinilai semakin beragam dan meningkat. Baik mengenai isu dan tema yang diangkat, serta kreativitas para sutradara atau pembuat film tersebut.

Sutradara kondang asal Yogyakarta, Hanung Bramantyo, yang juga menjadi anggota juri JAFF 2014 menyebut even tersebut sebagai media terbaik bagi insan perfilman di Asia. Ia pun secara terus terang menilai cukup sulit untuk memilih dan menentukan pemenang dari film-film yang diikutkan pada kompetisi kali ini.

“Yang pasti menurut saya JAFF adalah tempat terbaik bagi para film maker meningkatkan kemampuan mereka. Selain itu, JAFF menjalankan tahapan-tahapan selayaknya sebuah film, antara lain dengan adanya pemutaran film, serta ada pula film yang dikompetisikan saat festival ini,” papar Hanung.

Pada acara penutupan tersebut, juga dilakukan pemberian penghargaan pada sejumlah film yang dinyatakan sebagai pemenang pada beberapa kategori dalam JAFF kali ini.

Sumber : Tribunjogja

dokumenter film film jogja jaff

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Leave a reply