Mengenal Tentang Kereta Kyai Jongwiyat

Kereta Kyai Jongwiyat, M. L. Hermansen Co. Den Haag, Sultan Hamengku Buwana VII

Kraton Kasultanan Yogyakarta serta Kadipaten Paku Alaman memiliki kereta-kereta yang saat ini disimpan di museum Ratawijayan untuk kereta Kasultanan, serta di museum Pura Paku Alaman untuk kereta Paku Alaman.

Museum Ratawijayan dulu yaitu garasi serta bengkel kereta kraton, sedang bangunan di sekitarnya dulu yaitu gedhogan atau istal. Di museum ini saat ini disimpan seputar 20 kereta. Adapun di museum Paku Alaman ada empat buah kereta yang datang darimasa pemerintahan Paku Alam I atau seputar tahun 1812-1829.

Kereta Kyai Jongwiyat di buat oleh pabrik kereta M. L. Hermansen Co. Den Haag, Belanda atas pesanan Sultan Hamengku Buwana VII pada tahun 1880. Jenis kereta ini terbuka serta beroda empat, dan ditarik oleh empat ekor kuda. Kereta ini dulu berperan juga sebagai kendaraan komandan prajurit.

Kereta pusaka punya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Nyai Jimat serta Kereta Kyai Jongwiyat dijamasi atau dicuci di Museum Kereta Rotowijayan Yogyakarta, Selasa.

” Prosesi jamasan kereta pusaka itu dikerjakan tiap-tiap bln. Sura pada Selasa Kliwon. Kereta yang dicuci yaitu kereta kencana Kanjeng Nyai Jimat serta kereta pendamping Kyai Jongwiyat, ” kata abdi dalam Poncoroto yang memimpin prosesi jamasan kereta, Lurah Rotodiwiryo.

Ia menyampaikan, tiap-tiap tahun prosesi jamasan senantiasa berjalan di dua tempat, yaitu di Gedhong Pusaka yang disebut tempat menaruh beberapa pusaka paling utama keraton serta di Museum Kereta Rotowijayan.

” Jamasan pusaka di Gedhong Pusaka di pimpin Sultan yang tengah berkuasa serta tertutup untuk umum, sedang jamasan di museum kereta di pimpin oleh sesepuh serta terbuka untuk umum, ” tuturnya.

Menurutnya, kereta kencana Kanjeng Nyai Jimat adalah kereta yang ditarik delapan kuda yang dipesan segera dari Belanda pada 1750.

Kereta itu dipakai pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono V. Kereta itu umumnya dipakai untuk upacara-upacara kebesaran atau penobatan raja. Ia menyampaikan, untuk kereta pendamping yang dicuci senantiasa bertukar tiap-tiap tahun.Giliran Kyai Jongwiyat buatan Belanda pada 1780 yang umum digunakan raja untuk melihat pacuan kuda.

” Kereta yang ada di museum keseluruhan sejumlah 23 kereta, namun yang masih tetap dapat dipakai cuma seputar 75 %, ” tuturnya.

Menurutnya, prosesi jamasan diawali dari kereta dibikin bersih dengan air kembang setaman serta dipoles dengan jeruk nipis, lalu dikeringkan dengan kain mori oleh beberapa puluh abdi dalam yang bertugas.

” Sesudah kering, kereta Kanjeng Nyai Jimat serta Kereta Kyai Jongwiyat lalu dimasukkan kembali ke museum kereta. Air sisa jamasan diperebutkan oleh beberapa puluh warga lantaran diakui memiliki kandungan barokah, ” tuturnya.

Kereta Kyai Jongwiyat M. L. Hermansen Co. Den Haag news Sultan Hamengku Buwana VII

Author: 
author

Related Post

Leave a reply