Haryadi Sajikan Makanan Tradisional pada Dubes Swiss

tiwul

JOGJA – Pemerintah Kota Yogyakarta sudah menerapkan aturan untuk menghidangkan menu tradisional saat rapat. Penerapan tersebut, dilakukan sebelum terbitnya surat edaran dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengatakan pemerintah kota Yogyakarta selalu menyuguhkan berbagai makanan tradisional dalam berbagai pertemuan hingga rapat-rapat yang digelar di lingkungan pemkot.

“Sudah sejak tiga tahun lalu, kami sudah melakukan itu. Kalau kita ada rapat-rapat, kita selalu sajikan makanan tradisonal seperti jajanan pasar dan kue khas Yogya,” ujar Haryadi, Jumat (5/12) di Balaikota.

Menurut Haryadi, Pemkot juga sudah membuat surat edaran kepada seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) hingga tingkat kecamatan dan kelurahan terkait penyajian menu tradisional saat rapat.

“Saat ini memang sedang ramai, tapi yang jelas kami sudah melakukan itu dari dulu,” kata Haryadi.

Seluruh menu yang disajikan dalam rapat, kata dia, merupakan makanan lokal. Menurutnya, makanan tradisional itu memiliki nilai gizi yang tinggi. Seperti misalnya ubi dan singkong yang merupakan yang biasa dimakan masyarakat kecil ini juga memiliki nilai gizi tinggi.

“Bahkan, makanan ini nantinya bisa nailk kelas, karena semakin banyak yang menyajikannya,” ujar Haryadi.

Kepala Bagian Protokol Setda Kota Yogyakarta, Emiliana Yulianti menjelaskan imbauan mengonsumsi ubi, singkong dan makanan tradisional di lingkungan instansi pemerintahan daerah dalam rapat sudah diterapkan.

Emilia mencontohkan, saat kunjungan Dubes Swiss ke kantor Wali Kota, Jumat (5/12) kemarin, sajian yang dihidangkan juga berupa makanan tradisional.

“Tadi pas ada Dubes Swiss juga sajiannya berupa gathot tiwul, cenil, dan juga ketan putih yang dimakan dengan kue lopis, itu semua hidangan khas Yogya,” ujar Emilia kepada Tribun Jogja.

Menurutnya, sajian yang diberikan kepada tamu memang tidak monoton harus ubi dan singkong, melainkan bisa makanan olahannya. Terutama untuk tamu-tamu penting Wali Kota seperti Duta Besar memang harus sedikit ‘berkelas’. Namun bukan berarti ubi dan singkong tidak bisa dimasukkan, bisa saja, tapi nanti akan lebih dikemas ke penyajiannya.

“Penyajian makanan tradisional ini sudah lama kita lakukan, ini juga sekaligus untuk promosi. Buktinya, Dubes Swiss juga suka makan gathot tiwul,” ujar Emil sapaannya.

Bahkan lanjut Emil, bukan hanya untuk tamu-tamu Wali Kota saja yang disajikan menu tradisional. Terbukti pada rapat di lingkungan pemkot, juga disuguhkan makanan tradisional yang berbahan baku dari singkong.

Pernah juga saat rapat dengan dinas-dinas terkait hanya suguhan teh panas dan snack yang sudah ditata di atas tampah yang sudah dilapisi daun pisang.

“Isinya juga beragam makanan khas Jawa ada ubi, tiwul, ketan putih, gatot, getuk dan cenil yang dipadukan dengan parutan kelapa dan diberi taburan gula halus,” ujarnya.

Menurutnya, untuk sajian snack tamu-tamu Wali Kota itu beberapa kali pernah memesan dari UKM makanan tradisional di daerah Umbulharjo. Atau biasanya juga pernah beberapa kali memesan d toko jajanan pasar, tergantung dari berapa banyak yang dibutuhkan.

Harga snack untuk tamu-tamu wali kota itu biasanya juga tidak terlalu mahal. Khusus tamu-tamu penting biasanya harganya berkisar Rp15 ribu. Sementara untuk snack rapat di SKPD biasanya sekitar Rp7.000.

“Tapi yang terpenting harus ada standarnya, kami punya tim untuk test food menu khusus untuk tamu Wali Kota,” ujarnya.

Menuru Emil, makanan yang lolos test food itu biasanya sudah masuk dalam kategori rasanya yang enak, penampilan kemasan dan pastinya harus higienis. “Harus selektif karena di Yogya sekarang sudah banyak yang menyediakan makanan tradisional,” tuturnya.

Sementara untuk menu rapat di tingkat SKPD, lanjut Emil, juga sudah diterapkan. Seperti ubi, pisang godog, kacang rebus, jagung rebus dan gorengan. “Rasanya tidak ada yang keberatan dengan menu itu, semua SKPD juga sudah mulai melakukannya,” ujar Emil.

Sumber : Tribunjogja

dubes makanan tradisional news tiwul

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Leave a reply