Tugu Jogja

Tugu Jogja 1

Berkunjung ke Yogyakarta tak akan lengkap jika tak mampir memandangi simbol kebanggan kota pariwisata ini, yakni Tugu Jogja. Ia berdiri tegak setinggi 15 m diantara bangunan-bangunan lain dan lalu lalang lintas jalan di sekitarnya. Seakan-akan menjadi penjaga kota Yogyakarta yang takkan runtuh ditelan masa. Para pengunjung pun dapat melihatnya di tengah perempatan antara Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro.

Tugu Jogja juga merupakan bagian dari poros imajiner yang menarik garis lurus antara Gunung Merapi, Kaliurang, Monumen Yogya Kembali, Tugu Jogja, Stasiun Tugu, Malioboro, Pasar Bringharjo, Benteng Vredeburg, Alun-alun Utara, Kraton Jogja, Alun-alun Selatan, Panggung Krapyak, sampai Pantai Parangtritis. Oleh karenanya ketika sang raja berada di Keraton Yogyakarta dapat melihat Tugu dan garis imajinernya di arah utara.

Tugu kebanggan masyarakat Yogyakarta ini sering dipakai sebagai tempat digelarnya doa bersama dalam peringatan-peringatan penting. Selain itu, tak kalah dengan penduduk pribumi, para perantau dari beberapa kota sering memanfaatkan keindahan Tugu pada malam hari untuk sekedar berfoto sambil menikmati suasana angin malam. Yang lebih unik, ketika selesai pengumuman kelulusan para pelajar sengaja datang dan mencium bangunan Tugu, sebagai pelampiasan rasa syukur atas nikmat yang diterimanya.

Tugu jogja

Yang perlu diketahui bahwa bangunan Tugu Jogja yang asli tidak seperti sekarang ini. Belanda lah yang mengubahnya ketika masa penjajahan, untuk menerapkan politik adu domba masyarakat Yogyakarta. Maka mari kita melihat sejarahnya bangunan Tugu Jogja.

Tugu Jogja didirikan pada tahun 1755 oleh Sultan Hamengkubuwono I, tepatnya setahun setelah pembangunan keraton Yogyakarta dengan ketinggian 25 m. Badan Tugu berbentuk silinder atau disebut gilig, dan bagian puncaknya berbentuk bulat atau disebut golong. Oleh karenanya Tugu Jogja disebut juga dengan Tugu Golong-Gilig. Ada filosofi mendalam dengan bentuk tersebut, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Maksudnya adanya tingkat kedekatan tinggi makhluk kepada sang penciptanya.

Tugu Golong-Gilig

Ada juga yang mengartikan sebagai simbol menyatunya sang raja dengan rakyatnya, karena begitu dekat hubungan keduanya. Hubungan erat dan persatuan untuk mengusir segala macam penjajahan yang telah mengambil hak-hak kedamaian bangsa. Versi lain juga menyebutkannya sebagai simbol kesatuan tekad cipta, rasa dan karsa manusia. Apapun filosofi dari ketiga versi tersebut, yang jelas Tugu Jogja adalah simbol hubungan baik dalam masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta.

Tugu Jogja 3

Tegaknya Tugu Jogja tak selamanya kokoh mengiringi umur zaman. Pada 10 Juni 1867, gempa dahsyat melanda Yogyakarta, hingga mampu merobohkan Tugu Jogja sampai sepertiga bagian. Maka pada tahun 1889 Belanda yang saat itu masih menguasai Yogyakarta merenovasi Tugu Jogja. Namun sayangnya renovasi yang mereka lakukan justru mengubah sebagian besar keaslian Tugu. Mereka menyimpan tujuan memecah belah persatuan masyarakat Yogyakarta dengan sang raja. Dibawah pimpinan Opzichter van Waterstaat atau Kepala Dinas Pekerjaan Umum JWS Van Brussel bentuk Tugu Golong-Gilig pun berubah menjadi De Witte Paal (Tugu Putih) sampai sekarang. Padahal bentuk tersebut sebenarnya tak pernah ada dalam filosofi masyarakat Jawa. Ketinggiannya pun berkurang dari 25 m menjadi 15 m saja.

 

Related Post

Leave a reply