Menguak Misteri dan Sejarah Gunung Merapi

Menguak Misteri dan Sejarah Gunung Merapi

Menguak Misteri dan Sejarah Gunung Merapi

Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung api aktif paling banyak di dunia. Salah satu Gunung yang paling aktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang terletak di Yogyakarta. Gunung ini memiliki ketinggian puncak hingga 2.968 Mdpl. Gunung Merapi dikelilingi pemukiman penduduk padat dan sudah meletus kurang lebih 68 kali. Gunung ini juga memiliki banyak misteri, maka dari itu ketahuilah sejarah Gunung Merapi untuk menemukan apa saja misteri yang pernah terjadi.

Keaktifan gunung Merapi tidak menjadi halangan untuk para wisatawan mengunjunginya, bahkan dibuka secara umum untuk pendakian ketika keadaan gunung sedang tenang dan aman. Namun, ada beberapa kejadian yang tidak mengenakan sehubungan dengan pendaki yang kerap kali hilang atau celaka di gunung Merapi.

 

Mengenal Sejarah Gunung Merapi

Meninggalkan cerita mistis dan tingkat erupsi Gunung Merapi yang tinggi, dipercayai bahwa bentuk Gunung Merapi yang menjulang tinggi dibentuk dari sejarah Gunung Merapi yang rumit. Awalnya Gunung yang terletak di dua provinsi ini terbentuk saat Pulau Jawa masih berbentuk hutan belantara dan masih kosong.

Dalam dongeng sejarah, masyarakat percaya ketika Pulau Jawa masih dihuni oleh makhluk halus dan hewan. Sang Dewa kayangan hendak membuat sebuah pulau Jawa menjadi seimbang karena bagian barap pulau saat itu banyak dipadati dengan gunung.

Akhirnya Dewa Langit memutuskan untuk membuat penyeimbang di tengah pulau tidak terus miring dan condong ke barat. Saat itu Dewa Langit tidak memindahkan gunung yang berada di timur karena jarak yang jauh untuk memindahkan dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Salah satu benda yang bisa menjadi penyeimbang saat itu terdapat di Pantai Selatan yaitu berupa gunung yang menjulang tinggi dan terlihat begitu indah. Gunung tersebut begitu terjaga keasriannya sehingga terlihat sangat menawan. Saat itu Gunung yang terlihat bernama Gunung Jamurdwipa.

Sejarah Gunung Merapi menyebutkan bahwa Gunung Jamurdwipa dijaga oleh kaka beradik yang bekerja sebagai Mpu atau pembuat keris, mereka bernama Mpu Permadi dan Mpu Rama. Mereka adalah Mpu yang memiliki kekuatan mandraguna. Sejarahnya sang Mpu hanya membutuhkan perapian dan baja. Sedangkan untuk memukul hanya menggunakan kedua tangan saja.

Dewa Langit menemui kedua Mpu untuk meminta ijin memindahkan Gunung tersebut. Kerugian bila gunung tersebut tidak segera dipindahkan maka pulau Jawa akan tenggelam. Namun, Mpu meminta untuk menyelesaikan dulu pekerjaan kerisnya, jika tidak maka akan terjadi malapetaka di tanah Jawa dan lintas generasi.

Akhirnya Dewa Langit memindahkan Gunung secara sepihak di tengah pulau Jawa dan menjadi awal mula Gunung Merapi. Keberadaan Gunung Merapi saat itu membuat dataran timur ada yang tenggelam dan bagian barat menjadi daratan. Sejara Gunung Merapi menyebutkan setelah kejadian ini ada beberapa di pulau Jawa yang terpisah.

 

Misteri di Balik Sejarah Gunung Merapi

Ada beberapa lokasi di Gunung Merapi yang memiliki cerita mistis dan angker. Lokasinya terletak di lereng, hutan bahkan puncak Merapi. Tempat tersebut sangat disegani oleh masyarakat Yogyakarta, maka dari itu ada aturan yang melarang untuk menebang pohon, mimindahkan sesuatu di hutan, merusak sesuatu, berbicara kotor atau mengambil rumput.

Tempat angker yang ada di gunung Merapi antara lain Pasar Bubrah yang merupakan panggung bukti berada di kawah Merapi. Lokasinya berisi batu sisa letusan gunung. Dalam pasar tersebut sering terdengar suara gamelan atau suara riuh menggambarkan aktivitas di pasar.

Sejarah Gunung Merapi yang memiliki tempat angker antara lain Muncar, Plawangan, Bukit Turgo, hutan Patuk alap-alap dan Telaga Putri. Dibeberapa tempat tersebut sering terdengar suara dan aura mistis. Hutan Patuk juga disebutkan sebagai tempat untuk menggembala ternak milik Keraton Yogyakarta.

gunung merapi gunung yogyakarta Menguak Misteri dan Sejarah Gunung Merapi sejarah gunung merapai

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.