Mempelajari Sejarah Candi Prambanan dari Berbagai Sisi

Mempelajari Sejarah Candi Prambanan dari Berbagai Sisi

Mempelajari Sejarah Candi Prambanan dari Berbagai Sisi

Mempelajari Sejarah Candi Prambanan dari Berbagai Sisi

Candi Prambanan adalah candi Hindu yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno pada masa Dinasti Syailendra. Candi yang berada di Pulau Jawa ini berasal dari abad ke-IX Masehi. Candi Prambanan memiliki bangunan yang menjulang tinggi hingga 47 meter. Disini akan dibahas lebih lanjut mengenai sejarah Candi Prambanan.

 

Ada tiga candi utama di halaman utama Candi Prambanan. Candi-candi tersebut adalah Candi Brahma, Candi Siwa, serta Candi Wisnu. Ketiga candi tersebut yang merupakan lambang Trimurti dalam Kepercayaan Hindu menghadap ke arah Timur. Pada halaman kedua candi terdapat 224 candi lainnya.

 

Sejarah Candi Prambanan Berdasarkan Pembangunan dan Bukti Sejarah

Daerah Candi Prambanan yang terdiri dari beberapa candi yang berdekatan memiliki arsitektur yang berbeda. Arsitektur tersebut merepresentasikan ragam gaya arsitektur khas daerah Jawa Tengah. Letak candi yang berdekatan mencerminkan sikap toleransi dan tenggang rasa antar umat beragama. Hal itu menjadi salah satu dasar kehidupan bernegara bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika.

 

Berdasarkan sejarah Candi Prambanan, candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Balitung dan Raja Rakai Pikatan. Candi tersebut berlokasi sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Bukti sejarah yang menyebutkan tentang Candi Prambanan terdapat dalam prasasti bernama Siwargha yang artinya rumah untuk Siwa. Berdirinya Candi Prambanan menunjukkan kejayaan Hindu di Pulau Jawa pada masanya.

 

Sejarah Candi Prambanan Berdasarkan Legenda

Sejarah Candi Prambanan berdasarkan legenda yang tersebar di masyarakat, candi ini dibangun oleh Bandung Bondowoso. Raden Bandung Bondowoso membangun candi ini untuk melamar Roro Jonggrang yang dicintainya. Mereka berdua berasal dari dua kerajaan yang berbeda di daerah Jawa Tengah. Raden Bandung Bondowoso berasal dari Kerajaan Pengging sedangkan Roro Jonggrang berasal dari Kerajaan Baka.

 

Bandung Bondowoso adalah putra dari Prabu Damar Maya. Prabu Damar Maya merupakan pimpinan dari Kerajaan Pengging yang makmur. Beliau adalah seorang raja yang bijaksana. Sedangkan Raden Bandung Bondowoso dikenal sebagai seseorang yang gagah dan sakti.

 

Putri Roro Jonggrang merupakan putri cantik dari Prabu Baka. Prabu Baka adalah pemimpin Kerajaan Baka yang memiliki patih bernama Gupala. Prabu Baka juga dikenal sebagai seorang raja yang kejam. Beliau selalu berambisi memperluas wilayah kekuasaan bahkan merebut wilayah Kerajaan Pengging.

 

Maka terjadilah sebuah pertempuran setelah Prabu Baka pergi menyerbu Kerajaan Pengging. Pertempuran antar dua kerjaan tersebut berlangsung dengan hebat. Prabu Damar Maya mengirim putranya yang perkasa kepada Prabu Baka. Beliau mengirim Raden Bandung Bondowoso agar bertempur dan mengalahkan Prabu Baka.

 

Prabu Baka berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh kesaktian Raden Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso akhirnya mengejar Patih Gupala yang melarikan diri ke Kerajaan Baka setelah mengetahui kekalahannya. Disanalah Bandung Bondowoso bertemu dengan Putri Roro Jonggrang untuk pertama kalinya. Ia pun terpikat oleh kecantikan sang putri.

 

Dalam Sejarah Candi Prambanan, sang putri mengajukan dua syarat jika Bandung Bondowoso ingin melamarnya. Syarat tersebut adalah membangun sumur bernama Jalatunda dan membangun seribu candi. Seribu candi yang diharuskan dibangun dalam semalam berhasil diselesaikan hingga 999 candi berkat kesaktiannya dan bantuan para jin. Mengetahui hal ini, Roro Jonggrang berusaha menggagalkan usaha Bandung Bondowoso dengan merekayasa seolah-olah pagi telah tiba.

 

Mengetahui hal ini, Bandung Bondowoso pun marah. Ia lantas mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu. Dalam sejarah Candi Prambanan, Roro Jonggrang menjadi penggenap candi terakhir. Candi-candi yang dibangun dinamakanlah Candi Prambanan.

 

candi jogja Candi Prambanan wisata candi wisata jogja

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.