Jogja percussion festival 2014

Jogja percussion festival 2014

SLEMAN – Para musisi perkusi Jogjakarta kurang mendapatkan perhatian dan porsi untuk menampilkan. Para musisi perkusi kurang terwadahi secara struktural. Sehingga data pasti tentang perkembangan alat music pukul ini kurang terlihat.  Alhasil dalam perkembangannya hanya sebatas komunitas dan terlokalisasi. Hal ini diungkapkan peggiat music Jogjakarta Bambang Paningron dalam Jogja Percussion Festival (JPF) yang berlangsung di Kraton Ratu Boko, Sabtu malam (23/8). Menurutnya, dengan adanya JPF ini dapat menjadi maping bagi perkembangan perkusi di Jogjakarta. Kita tidak tahu sejauh mana perkusi saat ini, baik tradisi maupun kontemporer. “Alhasil selama ini hanya bisa meraba tanpa bisa melihat secara pasti seperti apa,” kata pria yang menjabat sebagai program director JPF ini.
Bersama komunitas perkusi Jogjakarta dia mencoba menjembatani kesenjangan ini. Menggandeng Dinas Pariwisata DIJ, JPF digagas sebagai wadah baru. Dengan harapan kesenian musik “pukul” ini bisa terakomodasi secara maksimal. Bambang mengungkapkan, antusiasme para seniman sangatbesar. Peserta untuk kegiatan puncak yang berlangsung di Kraton Ratu Boko jumlahnya membeludak. Titik awal yang hanya mendatangkan sekitar 100 meningkat menjadi 160 seniman. Selain itu jumlah penonton di tempat ini juga di luar ekspetasi. Mereka memadati pelataran Kraton Ratu Boko. Bahkan jumlah penonton ini tetap bertahan hingga pementasan berakhir. “Awalnya setiap kelompok membawa maksimal 10 pemain. Tapi di luar kenyataan justru membengkak. Meski terbatas dana, mereka tetap bersikeras ingin datang. Dana pun seakan tidak menjadi masalah, begitu halnya penonton yang datang jauh-jauh ke Boko,” kata Bambang.
Melalui JPF peta perkusi Jogjakarta juga terbaca. Bahkan, setiap wilayah, khususnya di DIJ ternyata memiliki ciri khas tersendiri. Perkusi ini berkembang antara jenis tradisi dan kontemporer. Bahkan setiap kabupaten memiliki perbedaan yang signifikan satu sama lainnya. Bambang menjelaskan daerah Bantul merupakan zona akademisi. Ini karena terpengaruhi dengan adanya ISI Jogjakarta. Lalu Kulonprogo bertahan dengan nilai tradisi yang masih sangat kental. Sleman menurutnya berkembang kuat sebagai musik pengiring seni tradisi pertunjukan misal Rampak Buto, dan Badui. “Gunungkidul itu perkusi yang sifatnya fungsional kerakyatan. Seperti gejog lesung atau alat musik untuk pengiring ronda malam. Inilah yang harusnya dilakukan dan dengan JPF ini bisa menyicil pemetaan perkusi di Jogjakarta,” katanya.
Malam itu, ada 10 kelompok yang tampil menghibur. Tidak hanya dari Jogjakarta, beberapa kelompok lainnya juga berasal dari luar daerah seperti Solo, Jakarta, Jember hingga Gayo Banda Aceh. Kelompok ini seperti Patrol Jember, Gendhang Gendheng, Jump, Srawung ABG, Gudhangan dan Aman Perkusi. Ada juga Drumming Outloud, Sanggar Lunguin, Sapa Wani, Grove n Roll, Etno Ensamble dan Kesper. Tidak hanya mengusung perkusi, kesepuluh kelompok ini juga mengolaborasikan dengan alat musik lainnya. “Ajang ini akan menjadi agenda tahunan,’’ jelasnya

Sumber : Radar Jogja

musisi news seni

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Leave a reply