Jangan Mudah Percaya Dengan Keterangan Pelaku Pembacokan

tersangka-pembacokan

SLEMAN - Terkait penangkapan eksekutor pembacokan beruntun, Faqih Amrulloh alias Ketel (22), kriminolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Suprapto, menuturkan bahwa kepolisian hendaknya tidak mudah percaya setiap keterangan yang diberikan dari tersangka.

Suprapto menuturkan bahwa alasan keluarga bisa menjadi upaya tersangka untuk meringankan hukuman. Dari sana Suprapto berharap petugas dapat lebih mengorek lebih jauh.

“Ada kejanggalan dalam kasus tersebut, dan perlu dicermati, apakah ada perencanaan sebelumnya terkait penyerangan,” ujarnya, Senin (12/1/2015).

Menurut penilaian Suprapto hal itu terkait tanggal yang dilakukan tersangka melakukan pembacokan, yaitu bertepatan pada hari Natal, 25 Desember. Suprapto menuturkan kasus-kasus kriminal yang sering terjadi sering terjadi pada tanggal-tanggal dimana ada hari besar, baik keagamaan, peringatan hari tertentu ataupun pemilu.

“Hal itu ada dugaan bahwa ada motor atau penggerak pelaku yang memanfaatkan pelaku untuk tujuan tertentu,” tukasnya.

Menurutnya di belakang kasus-kasus yang sering terjadi tersebut, ada oknum yang ingin merubah pandangan masyarakat tentang keamanan di Yogyakarta. “Ada pihak tertentu yang ingin merusak citra Yogyakarta, seolah-olah Yogyakarta tidak aman,” tambahnya.

Ditanya apakah tersangka perlu diperiksakan ke psikiater, Suprapto menuturkan bahwa hal itu memang perlu dilakukan. Menurutnya pemeriksaan psikologis kepada tersangka dapat menjelaskan sejauh mana tersangka terlibat dalam kasus tersebut. Hal itu terkait apakah penyerangan tersebut merupakan inisiatif sendiri atau digerakkan oleh orang lain.

“Seseorang oknum bisa saja dengan mudah memanfaatkan orang yang berdarah dingin, ataupun yang masih labil, untuk itu perlu ada pendalaman lebih lanjut untuk mengungkap kasus tersebut,” jelasnya.

Terkait bahwa fakta bahwa tersangka Faqih melakukan perbuatan tersebut lantaran balas dendam, Suprapto menuturkan bahwa kasus tersebut bukan peristiwa spontanitas. Ada dugaan bahwa kasus pembacokan tersebut sudah direncanakan dan terstruktur.

“Mereka kan nglitih, kalau nglitih bukan untuk balas dendam, tetapi untuk mencari musuh baru,” tandasnya.

Sumber : Tribunjogja

news

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.