Bocah Delapan Tahun Semangat Ikuti Kirab Safaran 1.000 Apem

kirab-apem_2112

JOGJA - Di tengah guyuran hujan, Arya Sumasurasa (8) tetap semangat mengikuti Kirab Safaran 1.000 Apem yang diselenggrakan oleh warga Gondolayu, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta, Minggu (21/12/2014).
Mengenakan topeng dan bertelanjang dada, Arya tidak merasakan dingin walaupun hujan turun dengan deras. “Saya seneng bisa ikut pawai. Ini pertama kali saya mengikuti kirab Shafaran 1.000 apem,” ungkap siswa kelas 3 SD N Gondolayu tersebut.
Kirab Safaran 1000 Apem adalah tradisi tahunan masyarakat Gondolayu sebagai upaya untuk menolak bala (bencana atau musibah). Kirab tersebut dikemas dengan sentuhan budaya.
Dalam kirab yang dimulai pukul 15:30 tersebut diarak dua jenis panganan, yaitu apem dan lemper sebagai simbol utama prosesi tersebut.
Penasehat Kirab Safaran 1000 Apem, Muhammad Ma’rus mengatakan, apem dan lemper sengaja dipilih karena dalam filosofi Jawa apem sebagai simbol ampunan, dan lemper yang terbuat dari beras ketan bermakna mempererat persaudaraan.
“Apem berasal dari bahas Arab Afuwwun yang bermakna ampunan atau sikap saling memaafkan. Dengan kedua simbol tersebut kami berharap agar masyarakat Gondolayu bisa lebih erat persaudaraannya, dan tidak ada permusuhan karena sikap mudah memaafkan,” ungkap Muhammad Ma’rus.
Karena dikemas dengan sentuhan kebudayaan, kirab tersebut melibatkan berbagai kesenian dan perangkat budaya, seperti jatilan, dolanan bocah, bregodo, dan masyarakat yang mengenakan pakaian adat jawa.
Kirab yang mengambil rute jalan Jenderal Sudirman, jalan AM Sangaji, jalan Mongonsidi, jalan Magelang, jalan Diponegoro, dan kembali ke Gondolayu tersebut diikuti sekitar 100 warga dari tujuh RT yang ada di wilayah RW 11 Kampung Gondolayu.
“Apem sejumlah 1000 dan lemper 500 buah tersebut merupakan urunan dari warga yang memuat makna ajakan untuk bersedekah,” ungkap Muhammad Ma’rus. Selain apem dan lemper juga ikut diarak ogoh-ogoh setinggi lima meter yang melambangkan kejahatan dan keburukan.
Seusai diarak, apem dan lemper tersebut diperebutkan warga. Sedangkan ogoh-ogoh yang melambangkan keburukan dirusak warga.

Sumber : Tribunjogja

berita kirap news

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.