Perajin Gembor, Bertahan di Tengah Kemajuan Zaman

Perajin Gembor, Bertahan di Tengah Kemajuan Zaman

KULONPROGO – Perajin gembor (alat penyiram tanaman berbahan seng) di Kuncen Bendungan Wates, bertahan. Meski dari waktu ke waktu mulai terhimpit kemajuan teknologi, perajin gembor di wilayah ini bahkan telah survive hingga tiga generasi.
Seorang perajin gembor di Kuncen, Agung Setya Budi (40), adalah salah satunya. Pria ini mengaku telah menekuni sebagai perajin perabotan berbahan seng sejak 1990-an. Dia merupakan penerus orangtua dan kakeknya yang juga menggeluti bidang serupa, sejak 1960-an.
Meski terbilang masih muda, Agung lumayan menguasai seluk beluk pembuatan gembor dan perabot berbahan seng lainnya. Dia juga tahu persis kendala-kendala selama mempertahankan eksistensi kerajinan warisan kakeknya itu.
“Gembor sangat populer di pertanian zaman dulu. Orang menyiram tanaman di sawah pakai gembor. Sekarang nyaris sulit ditemui,” kata Agung, Rabu (18/2/2015).
Bukan tanpa sebab, gembor jarang lagi digunakan karena petani zaman kini telah memilih mesin pompa air untuk menyedot air ketika menyirami tanaman. Biasanya, air dari sumur atau sungai yang disedot menggunakan pompa air langsung disalurkan dengan selang ke area pertanian.
“Kalau air melimpah pasti pakai mesin pompa. Jadi gembor ini lakunya justru kalau musim kemarau,” katanya.
Agung merupakan satu dari sekitar 14 produsen gembor di wilayahnya. Kondisi produsen lainnya pun lebih kurang sama dengan Agung. Di rumahnya, Agung masih dibantu orangtuanya, Sukardi, yang kini menginjak usia senja, sekitar 72 tahun.
Di musim hujan seperti saat ini, ordernya tidak lebih dari 100 unit gembor per bulan. Itu pun pesanan dari luar Kulonprogo. Sementara, petani Kulonprogo selama ini justru jarang lagi menggunakan gembor.

Tribunjogja

news

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.