Masjid Mataram KotaGede

Masjid-Mataram-KotaGede

Masjid Mataram Merupakan masjid utama kerajaan, dimana segala kehidupan keagamaan Islam negara diselenggarakan. masjid Mataram memiliki sejumlah nama lain yang terkait dengan peran dan fungsinya, yakni  masjid Agung, masjid Gedhe, masjid Jami’.
Masjid Mataram terletak di selatan Pasar Kotagede, barat Kampung Alun-alun. masjid berdiri dalam satu kompleks dengan Pasareyan Agung Kotagede, dikelilingi oleh tembok pasangan bata setinggi sekitar 2,5 meter. masjid memiliki dua gerbang, yakni gerbang utama untuk jamaah di sisi timur dan gerbang pelayanan untuk kaum kudus di sisi utara.

Denah bangunan utama berbentuk bujur sangkar, ditutup dengan dinding tembok bahan batu putih. Atap utama adalah tajug tumpang tiga, didukung oleh empat tiang utama saka guru dari kayu. Di dalam ruang utama terdapat sebuah mimbar yang konon berasal dari Palembang. Kelengkapan ruangan masjid antara lain adalah pawestren yaitu serambi khusus untuk kaum wanita yang berada di sebelah sisi selatan. Selain itu juga terapat serambi depan yang dikelilingi oleh parit.

Dalam struktur keruangan pusat kerajaan Islam di Jawa, masjid Mataram merupakan salah satu elemen pokok catur gatra Kotagede sebagai kuthanegara kerajaan Mataram, terletak di sisi barat Alun-alun. masjid ini adalah pusat sakral kerajaan. Di balik masjid dimakamkan orang-orang yang mempunyai kaitan erat dengan keberadaan kerajaan Mataram. Dengan demikian area ini memiliki nilai religius sekaligus spiritual yang sangat tinggi bagi Keraton Mataram.
masjid ini adalah juga sebuah simbol dan tengaran masuknya Islam ke dalam masyarakat tradisional di pedalaman Jawa yang pada saat itu masih didominasi oleh kepercayaan asli dan Hindu. Kepercayaan asli muncul dalam penataannya yang menyatu dengan makam para tokoh, sedang karakter Hindu terlihat pada langgam rancangan pagar keliling dan gapura. Unsur air yang mengelilingi tempat ibadah juga merupakan kelanjutan dari unsur Hindu.
Bangunan masjid merupakan salah satu bangunan tertua di wilayah Yogyakarta, meski sudah mengalami beberapa kali renovasi, dan telah dimasukkan dalam bangunan yang harus dilestarikan. Bahwa ini adalah masjid kerajaan ditandai di antaranya dengan mustaka yang berciri khas masjid keprabon. Arsitektur masjid pada ruang sholat utama menggunakan tipe bangunan tajug. angunan serambi masjid ditutup dengan atap limasan, emperan menggunakan konstruksi kuda-kuda sederhana (trusses), sedang kuncung-nya berupa pelana atau kampung.
Dalam sejarahnya, pada masa Pemanahan awalnya masjid masih berupa langgar. Oleh Senapati, bangunan langgar ini kemudian dipindahkan atau di geser menjadi cungkup makam, sedangkan di tempat tersebut didirikan bangunan masjid induk. Hal itu terjadi tahun 1587, sebagaimana tertera pada kelir gapura masjid. Tahun itu adalah saat keruntuhan Pajang, dan pendirian kerajaan Mataram. Dengan demikian masjid Mataram menandai saat penobatan Senapati menjadi raja di Keraton Mataram.
Masjid kemudian ditambah dengan serambi oleh Sultan Agung. Di dalam kompleks masjid Mataram terdapat sejumlah bangunan lain, seperti bangsal paseban dalam serta tempat wudhu. Bangunan tertentu adalah tambahan saat Mataram sudah pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, sehingga bangunan-bangunan tersebut juga disiapkan oleh dan bagi kedua pihak. masjid ini juga dilengkapi kolam di depan serambinya, agar orang yang masuk sudah suci dan terbebas dari hal-hal yang kotor atau najis.
Pada tahun 1919, masjid pernah mengalami kebakaran besar. Sekitar tahun 1920, Yayasan Muhammadiyah ikut memberikan kontribusi terhadap peningkatan masjid. Diberikan tambahan emperan pada serambi masjid. Selain itu parit depan dan samping serambi ditutup, dan sebagai gantinya disiapkan tempat wudhu memakai kran. Atap sirap juga diganti dengan genteng.

Kotagedeheritage

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.