Aktivis UIN Suka Dihajar di Depan Balai Kota Jogja

penganiayaan

JOGJA – Dua aktivis mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (Suka), yakni Mohamad Arwani dan David Maulana, mengalami penganiayaan oleh kelompok orang tak dikenal, pada Sabtu (2012/2014) dini hari. Belum diketahui motif penganiyaan tersebut.

Peristiwa itu terjadi pada pukul 01.25 WIB, seusai menghadiri rapat Forum Mahasiwa Yoyakarta (FMY). Ketika sampai di depan kantor balai kota Yogyakarta, tanpa alasan yang jelas mereka dipepet oleh tiga sepeda motor dengan posisi berurutan.

Setelah cukup dekat, orang yang mengendarai motor Yamaha Vixion menendang motor yang dikendarai David dan Arwani namun tidak sampai jatuh. Pengendara Vixion itu lalu memotong jalan untuk memberhentikan keduanya.

Dalam posisi sudah berhenti David dan Arwani menanyakan persoalan. Para pelaku yang berjumlah lim orang itu, hanya menjawab kata-kata kasar kepada korban, dan mereka langsung saja membabi buta pukulan dan tendangan.

“Saya melihat perkelahian ini tidak bisa dilawan, tapi harus dihindari. Salah satu pelaku ada yang membawa pisau belati berada di posisi Arwani yang jatuh tersungkur,” kata David.

Waktu itu, sempat ada pengendara yang lewat, memakai motor Mega Pro, berboncengan tiga orang, tapi tidak berani untuk membantu, hanya akan membantu mencarikan orang untuk menolong.

David yang berhasil lolos dari sergapan, berlari menuju Jalan Kusumanegara mencari bantuan. Selang beberapa menit, David dan beberapa orang kembali ketempat dan Arwani sudah tergeletak lemas dengan wajah babak belur.

Kawan-kawan kontrakan yang berhadil dihubungi pun langsung datang ke lokasi kejadian. Mereka langsung membawa Arwani dan David ke RS Hidayatullah, untuk mendapat pertolongan medis.

Setelah para korban tiba di RS, selang beberapa menit tiba juga beberapa polisi, yang memakai baju preman, tapi juga membawa tembak laras panjang.

Karena robek di kelopak mata Arwani cukup parah, pihak RS Hidyatullah menyarankan untuk membawanya ke RS Dr YAP. Pada waktu itu, mereka pun sempat meminta dari pihak polisi untuk mengantarkan, sekaligus minta perlindungan.

“Yang mengejutkan pihak polisi tidak mau, salah satu anggota malah bilang “ya kami juga takut mas, kalau terjadi apa-apa dijalan gimana?” kata David.

Karena dirasa polisi tidak membantu, mereka pun memutuskan untuk mengantarkan sendiri ke RS YAP. Setelah sampai di RS, ternyata dari pihak RS tidak bisa memberikan kepastian. Sehingga langsung dipindahkan lagi ke RS Sarjito.

Kasat Reskrim Polresta Dodo Hendro Kusumo mengatakan masih belum mengetahui motif penyeroyokan tersebut, maupun dari kelompok mana berasal.

“Kami masih menyelidiki kasus tersebut dan masih memburu pelakunya,” ujarnya.

Sumber : Tribunjogja

mahasiswa news pemukulan penganiayaan

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.