Teknik Budi Daya Jahe Warga Berbah Tanpa Lahan

jahe-bibit

SLEMAN – Tak ada rotan, akar pun jadi. Demikian peribahasa yang sesuai dengan yang dilakukan oleh Dwi Wahyudi (47), warga Sumber Lor, Kecamatan Berbah.

Bagaimana tidak, di tengah minimnya lahan yang dimilikinya, ia sudah membudidayakan tanaman jahe hingga mampun meraup tujuh kuintal rimpang jahe sekali panen. Padahal, ia hanya memanfaatkan lahan pekarangan yang hanya memiliki lebar sekitar tiga meter dan panjang lima meter itu.

Penggunaan media tanam pengganti tanah menjadi kuncinya. Dengan memanfaatkan polybag yang diisi dengan sekam pagi dan pupuk organik serta sedikit campuran tanah menjadi media tanam yang efektif.

“Dengan demikian, penggunaan lahan yang sempit dapat dimaksimalkan. Tanamnya bisa bertumpuk atau berjajar tanpa harus menyesuaikan jarak antar tanaman seperti jika menggunakan tanah di kebun,” ungkapnya saat dikunjungi Tribun Jogja di kediamannya sekaligus tempat budidaya jahenya, Minggu (1/2/2015).

Menurutnya selain hemat tempat, dengan menghindari penggunaan tanah secara langsung itu juga mendatangkan manfaat lain. Seperti mempermudah mengotrol kadar air dan memaksimalkan tanaman jahe untuk menyerap nutrisi secara optimal.

“Seperti diketahui, rimpang jahe sangat rentan terhadap kadar air dalam tanah yang tinggi. Dengan tidak menggunakan tanah secara langsung, air yang disiramkan ke tanaman akan luruh dan tidak tertahan dalam wadah. Sehingga dapat menghindari pembusukan,” katanya.

Sumber : Tribunjogja

jahe news pertanian

Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.