Hajad Dalem Labuhan Ageng Tahun Dal 1951

Hajad Dalem Labuhan Ageng Tahun Dal 1951

Labuhan tahun Dal yang dilakukan tiap sewindu atau delapan tahun sekali seperti tahun ini disebut Labuhan Ageng (besar). Jika pada Labuhan Alit (kecil) prosesi Labuhandilakukan di tiga tempat, yakni Pantai Parangkusuma, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu, maka pada Labuhan Ageng lokasi bertambah di Dlepih Khayangan, Wonogiri.

Labuhan yang paling awal berlangsung di Pantai Parangkusuma pada hari Senin (16/4). Pihak keraton yang dipimpin oleh KRT Wijaya Pamungkas menyerahkan ubarampe ke Kecamatan Kretek. Dari Kecamatan Kretek ubarampe dibawa dengan iring-iringan menuju Kompleks Cepuri, tempat di mana ubarampe didoakan terlebih dahulu. Pada Labuhan Ageng terdapat tambahan ubarampe berupa Songsong Gilap (payung) untuk dilabuh di Pantai Parangkusuma. Menjelang tengah hari prosesi Labuhan dimulai dengan dipimpin juru kunci Pantai Parangkusuma, Mas Penewu Suraksa Jaladri.

Pada hari yang sama, Senin (16/4), dilangsungkan Labuhan Dlepih yang berada di Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri. Proses Labuhan sendiri dilakukan di Selo Payung, tempat di mana Panembahan Senopati bertapa sebelum membuka hutan Mentaok untuk membangun Mataram. Acara diawali dengan penyerahan ubarampe dari keraton yang diwakili oleh KRT Rintaiswara kepada Camat Wonogori, Drs. Slameto Sudibyo. Ubarampe kemudian diserahkan pada Mas Ngabehi Surakso Budoyo selaku juru kunci. Prosesi Labuhandilaksanakan sekitar pukul 12.30 dipimpin oleh juru kunci.

Prosesi Labuhan Merapi dimulai sejak hari Senin (16/4) siang dengan penyerahan ubarampe dari pihak keraton yang dipimpin oleh KRT Widyasumbaga ke Kecamatan Depok. Ubarampe selanjutnya dibawa ke Kecamatan Cangkringan untuk dilakukan serah terima dari Camat Cangkringan, Edi Harmana, SH.M, Hum. kepada juru kunci Merapi, Mas Kliwon Suraksa Harga. Ubarampe kemudian dibawa menuju Kinahrejo diiringi arak-arakan budaya berupa gunungan, bregada prajurit, dan tim kesenian. Malam harinya dilakukan Sugengan dan pertunjukkan wayang semalam suntuk.

Keesokan harinya, pada Selasa (17/4) pagi sekitar pukul 07.00 seluruh ubarampe dibawa menuju Sri Manganti yang berjarak kurang lebih 4 kilometer dan waktu tempuh sekitar 1 setengah jam dari Kinahrejo. Sekitar pukul 08.30 proses Labuhan dimulai dengan dipimpin oleh juru kunci Merapi. Pada tahun Dal ini, ubarampe Labuhan Merapi memiliki tambahan yaitu Kambil Wathangan atau pelana kuda dari kayu.

Proses Labuhan di Lawu juga dimulai sehari sebelumnya, pada Senin (16/4). Sekitar pukul 11.00, pihak keraton yang diwakili KRT Widyadipura menyerahkan ubarampe kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar, Drs. Tarsa, M.Pd. di rumah Dinas Bupati Karanganyar.

Malam hari, selepas Maghrib, dilakukan acara Sugengan Labuhan Lawu di kediaman Abdi Dalem juru kunci, Mas Bekel Surakso Hargolawu. Menjelang tengah malam, sekitar pukul 24.00 Abdi Dalem yang bertugas melaksanakan Labuhan Lawu berangkat menuju Hargo Dalem dengan waktu tempuh sekitar 8 jam. Abdi Dalem yang bertugas naik biasanya 5 orang, namun di tahun Dal ini menjadi 6 orang karena ada tambahan ubarampe berupa songsong (payung). Setelah sampai pada Selasa (17/4) pagi, ubarampekemudian didoakan.

Upacara Labuhan merupakan wujud tapak sejarah asal usul kerajaan Mataram dan permohonan akan keselamatan Ngarsa Dalem serta kesejahteraan masyarakat Yogyakarta. Upacara ini juga merupakan perwujudan dari filosofi Hamemayu Hayuning Bawono. Sebuah upaya menghormati dan menjaga keserasian, keselarasan, dan keseimbangan alam.

 Sumber: Kratonjogja
Author: 
    author
    JogjaLand

    Related Post

    Comments are closed.