Festival Bentara Upacara Adat, Yogyakarta

Festival Bentara Upacara Adat

Festival Bentara Upacara Adat, Yogyakarta Adalah Pagelaran Seni yang Menampilkan Upacara Adat Istiadat Dari Daerah masing-masing. Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki 4 kabupaten dan 1 Kota ini memiliki beraneka ragam budaya. Salah satunya adalah upacara adat di masing-masing daerah yang berjumlah sekitar 248 jenis upacara adat. Upacara adat merupakan produk kebudayaan lokal, identitas budaya, pewarisan nilai, inspirasi gagasan dan ilmu pemberdayaan pelaku budaya, pengembangan potensi ekonomi masyarakat serta pengembangan dunia pariwisata. Upacara adat juga menjadi cerminan karakter masyarakat Jawa yang agraris religius dimana setiap permohonan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa senantiasa diekpresikan dengan upacara adat yang menggunakan uba rampe yang beraneka macam yang sering menjadi kesalahpahaman bagi masyarakat seperti pandangan musyrik. Hal ini dikarenakan minimnya acuan pewarisan pengetahuan dan dokumentasi dari makna filosofi yang sebenarnya. Adapun masing-masing Upacara adat terebut : 1. Kabupaten Sleman :

1. Kabupaten Sleman

  • Upacara adat Mbah Bregas dari Ngino, Margoagung, Sayegan. Upacara adat utk memperingati Mbah Bregas yang menurut cerita berasaldari prajurit Majapahit yang kemudian bermukim di Margoagung, berhasilmemberikan keamanan & ketentraman, dan menerima tamu agungSunan Kalijaga untuk syiar. Selanjutnya tiap tahun mengadakan syukuranseluruh warga setempat kehadirat Tuhan termasuk pasangan pengantinberjalan mengelilingi Ngringin yang dahulu dibagai sebagai pertapaannya.

Upacara adat Mbah Bregas

  • Upacara adat Bathok Bolu dari Sambiroto, Purwomartani, Kalasan, Upacara adat sebagai pernyataan rasa syukur Bersih Desa setiap tahuntanggal 10 Suro, memperingati Pangeran Ganthi kerabat Kraton Yogyakarta yang berhasil menundukkan Jin Ratu Ayu Wijaya Kusumapenguasa wilayah Kraton Bathok Bolu Alas Katonggo di wilayah Sambirotosekarang, bersama seluruh masyarakat yang selanjutnya bertekadmewujudkan persatuan, kedamaian kerukunan beragama, danmewujudkan kesejahteraan.

Upacara adat Bathok Bolu

2. Kabupaten Bantul :

  • Upacara adat Jumedhulinng Maeso Suro dari Srigading, Sanden, adalah Upacara adat yang dilaksanakan di Srigading tiap malam 1 Suro yangmerupakan tradisi dari masyarakat Sanden untuk mengenang legendaMaheso Suro (Kerbau yang muncul di bulan Suro). Legenda ini berawaldari kemiskinan & penderitaan masyarakat, sehingga mereka memohonkepada Tuhan dengan cara bersemedi di pantai Samas. Dari semeditersebut tiba-tiba muncullah seekor kerbau hitam yang selanjutnyamembantu masyarakat setempat dalam menggarap pertanian dankemudian pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan seluruhrakyat.

Upacara adat Jumedhulinng Maeso Suro

  • Upacara adat Dhekahan Gedhe dari Payak, Srimulyo, Piyungan, adalah Ritual perwujudan rasa syukur yang dahulunya dilaksanakan oleh tokohpelopor Kyai Prawira Rejasa atau Ki Ageng Payak bersama seluruh wargamasyarakat melaksanakan kenduri besar dan berdoa kehadiratNYA ataslimpahan rejeki dan keberhasilan dalam panen, dan tradisi ini sampaisekarang terus dilestarikan tiap tahun.

Upacara adat Dhekahan Gedhe

 

3. Kabupaten Kulon Progo :

  • Upacara adat Daruno Daruni dari Bugel, Panjatan,adalah pejuang pengawal pangeran Diponegoro yangdalam perjuangannya melawan penjajah menyimpan tombak dan landasannya diBugel Panjatan, yang sekarang terdapat petilasan dan tiap tahun pada bulanSuro diperingati dengan doa bersama seluruh masyarakat agar senantiasamendapatkan berkah perlindungan & kemakmuran dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Upacara adat Daruno Daruni

  • Upacara adat Bersih Desa Rajaban dari Jatimulyo, Girimulyo, Warga Gunungkelir pada bulan Rejeb selasa/jumat kliwon setiap tahunselalu menggelar upacara manifestasi doa kehadirat Tuhan yang telahberkenan atas segala pemberianNYA, dengan sesaji hewan kambingkendit (warna bulu ada corak garisnya), sesajian khusus lainnya dan gelarkesenian tradisi.

Upacara adat Bersih Desa Rajaban

4. Kabupaten Gunung Kidul :

  • Upacara adat Rasulan dari desa Bobung, Putat, Patuk, adalah sebagai pernyataan syukur atas keberhasilan tokohKyai Seco Boma beserta 5 pengikutnya membangun daerah Bobung yangkonon berasal dari menyaksikan kerbau melintas yang tanduknyamenyerupai “bung” atau bambu yang baru tumbuh. Sebagai wujud rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dan sekarang desa budaya inisudah terkenal dengan kerajinan topeng & cinderamata kayu lainnya.

Upacara adat Rasulan

  • Upacara adat Rasulan dari Kepek, Wonosari, Atas keberhasilan mengatasi paceklik dan penderitaan rakyat yangberlangsung sebelumnya, maka sejak 1959 desa Kepek melaksanakanadat sedekahan rasulan yang pelaksanaannya tiap sabtu pahing bulanAgustus. Penyelenggaraan acara ini sebagai perwujudan rasa syukurkehadirat Tuhan dan perekat kehidupan sosial, kebersamaan sertakerukunan seluruh warga masyarakat.

Upacara adat Rasulan dari Kepek, Wonosari

5. Kota Yogyakarta

  • Upacara adat Merti Golong Gilig dari Dipowinatan,Keparakan, Mergangsa,Golonggilig memiliki makna manunggal dan bersatu padu dalam karya,cipta dan karsa menuju tujuan yang sama, sesuai semangat cikal bakalpendiri kampung; kerabat Kraton Pangeran KRT Dipowinoto yang memilihtinggal diluar tembok Kraton, nDalem Joyodipuran dan membaur bersamarakyat mewujudkan kehidupan yang harmonis, guyub rukun dan sejahteralahir dan batin.

Upacara adat Merti Golong Gilig

  • Upacara adat Ba’da Kupat dari Pandeyan, Umbulharjo,Keberhasilan Ki Lurah dengan kesaktiannya bersama para pemuka yangkebanyakan pandai besi (Pandeyan, bahasa jawa) memakai Gong KyaiSlamet dalam mengatasi banjir lumpur yang melanda wilayah yang waktuitu dianggap peringatan dari Tuhan karena banyaknya “molimo” ataumaksiat/perilaku yang tidak benar dari warga masyarakat, agar kembalike jalan Tuhan, hidup rukun dalam harmoni kebersamaan, maka tiapseminggu sesudah Ba’da/Hari Raya Idul fitri diadakan Ba’da Kupat untukmeruwat agar bencana itu tidak terjadi lagi dimasa mendatang.

Upacara adat Ba’da Kupat

Author: 
author

Related Post

Leave a reply